Satu Zona Waktu, RI Hemat Listrik 1,6 Triliun

Ada wacana penyatuan zona waktu dimulai 28 Oktober tahun ini, ungkap tim riset Kemenristek
Peta Indonesia tiga zona waktu  

VIVAnews - Kementerian Riset dan Teknologi mengaku telah menggelar kajian satu zona waktu (GMT+8) sejak 2004 hingga 2008. Hasilnya, pemberlakuan satu zona waktu di nusantara berdampak besar bagi penghematan listrik, yang nilainya bisa sekitar Rp1,6 triliun per tahun.

Menurut Mohammad Nur Hidayat dari tim kajian Kemenristek, pertimbangan penyatuan zona waktu didasarkan pada pertimbangan kondisi geografis, politik, sosial budaya, ekonomi, pertahanan keamanan, dan agama.
"Selain itu juga keuntungan penyatuan zona waktu akan berdampak pada penghematan energi," kata dia, dalam keterangan tertulis yang diterima hari ini, 27 Mei 2012.

Sedangkan Asisten Deputi Investasi IPTEK dan Deputi Bidang Sumber Daya IPTEK, Agus Puji Prasetyono, mengatakan penghematan yang didapat tercatat sebesar lebih dari Rp 1 triliun. "Dari hasil riset dengan asumsi perilaku konsumsi listrik rumah tangga di kota-kota besar di Pulau Jawa, antara lain Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya, didapatkan perhitungan penghematan listrik sebesar Rp 1,6 triliun per tahun," ujar Agus.

Selain itu, Agus mengatakan penyatuan zona waktu memiliki pengaruh positif pada pemerintahan, industri penerbangan, industri media, dan daya saing nasional juga terhadap industri telekomunikasi.

Sedangkan Kepala Divisi Luar Negeri Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI), Eddy Satriya, mengatakan satu zona waktu didasarkan pada kenyataan bahwa perekonomian masih berpusat di Indonesia bagian Barat. Strategi ini juga dilakukan sejumlah negara untuk mengatasi tidak meratanya pembangunan ekonomi.

"Cina yang seharusnya 4 zona waktu menjadi satu zona waktu, begitu pun Korea Selatan, Singapura, dan Malaysia. Yang lebih radikal adalah kepulauan di wilayah Pasifik, yaitu Negara Samoa dan Tuvalu yang menghilangkan 24 jam atau 1 hari, dengan menghilangkan hari Jumat (30 Desember 2011) untuk mendekatkan waktu mereka ke Australia dan New Zealand," ucap Eddy.

Namun Eddy mengingatkan akan pentingnya sosialisasi kepada 33 provinsi jika Indonesia jadi menyatukan zona waktu. Rencananya, Indonesia akan menyatukan zona waktu pada 28 Oktober 2012.

"Penyatuan zona waktu Indonesia diusulkan dengan nama Waktu Kesatuan Indonesia GMT +8 atau Satu Zona Waktu GMT+8 NKRI atau sebutan lainnya, yang direncanakan akan diterapkan secara nasional melalui Peraturan Presiden pada 28 Oktober 2012," ucap Eddy. (ren)