21 April Hari Kartini?



Setiap tanggal 21 April kita bangsa Indonesia selalu memperingatinya sebagai hari kartini. Anak-anak di sekolah dasar (SD) biasanya merayakannya dengan meriah dan gembira. Anak-anak SD itu dirias ala kartini dan kartono Indonesia yang imut-imut. Pagi-pagi sudah berdandan ke salon dan terlihat ceria untuk merayakan hari kartini di sekolahnya.
Termasuk anak kedua saya (Berlian) yang hari ini merayakan hari kartini di sekolahnya. Sudah bangun lebih pagi dari hari biasanya. Antri ke salon, dan dihias dengan pakaian adat jawa ala kartini mungil. Lucu dan menarik hati. Jadi ingat waktu jaman SD dulu, saya dan teman-teman didandani pakaian adat dan diminta tampil di atas panggung ala peragawati dan peragawan terkenal. Wah ramai pokoknya. Sayang fotonya telah hilang dihantam banjir.Kalau masih ada sudah saya tampilkan di tulisan ini. Anda pun akan berkata kepada saya, “Ih Omjay kecil lucu ya, gemes deh ingin mencubit pipinya”, hehehe.
Hari kartini memang menyihir dunia anak-anak. Hal yang saya tahu waktu itu adalah ibu Kartini adalah pejuang kaum wanita. Belakangan saya tahu pejuang kaum wanita bukan kartini saja, tapi masih banyak yang lain seperti: Cut Nyak Din, Cut Mutia, Dewi Sartika, dan lain-lain.
Apa makna dibalik hari kartini? Kenapa ada hari kartini tapi gak ada hari kartono? Apa yang istimewa dari hari kartini? Lalu mengapa hari kartini selalu diperingati setiap tanggal 21 April?
Beberapa pertanyaan di atas mengundang pikiran saya menjawabnya. Namun saya biarkan saja pembaca untuk menjawabnya. Pasti akan banyak jawaban yang diperoleh beraneka warna. Mereka akan menjawab dari sudut pandangnya masing-masing.
Bagi saya secara pribadi, hari kartini memiliki arti penting. Bila mengingat perjuangan kartini saya teringat ibu. Tak salah bila saya menuliskan “ibuku, kartiniku”. Sebab perjuangan yang dilakukan selama hidupnya untuk membahagiakan semua anak-anaknya. Ibuku menemaniku dengan semangat kartini yang tak pernah padam. Bahkan saya berani mengatakan bahwa “ibuku adalah wanita yang multitasking”. Artinya, ibuku mampu melakukan beberapa kegiatan secara bersamaan. Misalnya memasak sambil mencuci pakaian kami. Dulu belum ada mesin cuci seperti sekarang. Ibu saya masih mencucinya dengan tangannya yang lembut.
Kelembutannya membuat kami anak-anaknya mampu bertahan dari kekerasan hidup. Tidak cengeng dan mampu berdiri dengan tegak di atas kakinya sendiri. Itulah mengapa saya menjulukinya “Ibuku motivatorku”, karena dialah yang selalu memberi semangat setiap harinya. Mampu menyemangatiku ketika aku sedang terserang rasa malas.
Kembali kepada peringatan hari kartini. Hari kartini diperingati untuk memberi semangat kepada kaum wanita untuk selalu bersemangat dalam kehidupan ini. Tidak bermental pengeluh dan mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.
Anak yang baik, biasanya terlahir dari wanita yang baik. Wanita yang baik adalah wanita yang mampu melawan diri sendiri. Mereka mampu menguasai diri secara powerful dan meraih kemulian hidup. Wanita yang memiliki kemuliaan hidup akan mampu melakukan perubahan progesif, dan menjadikan anak-anaknya mampu menjadi pahlawan dan penolong bagi dirinya.
Dalam buku “Menang Melawan Diri Sendiri” karya Amir Faisal (penulis buku “Semut Mengalahkan Gajah) dituliskan sungguh menyakitkan, ketika seseorang mendapati dirinya sulit berubah. Padahal banyak sekali perubahan yang terjadi di sekelilingnya dengan kecepatan yang mencengangkan. Inilah hukum alam. Pada saat kita berhenti, orang di kanan kiri kita bergerak maju dengan cepat. Kita merasakan sebuah tarikan ke belakang yang memusingkan. Seperti kata hukum relatifitas yang diperkenalkan Abert Einstein, kita menjadi merasa mundur ketika yang lain bergerak cepat.
Kartini mengingatkan bangsanya untuk berubah. Terutama tentang nasib kaum wanita yang sulit sekali mendapatkan akses pendidikan. Dia berontak dan mecurahkan seluruh pemikirannya yang akhirnya terajut menjadi buku habis gelap terbitlah terang.
Buku Kartini tak lekang dimakan jaman. sampai hari ini karya tulisnya tetap menginspirsi kita. Wanita Indonesia harus berubah seiring dengan perkembangan jaman. Namun tetap berjalan dalam fitrahnya sebagai seorang wanita. Seorang ibu yang menginspirasi bagi anak-anaknya. Seorang ibu yang mampu menjadi wanita yang multitasking.
Menjadi ibu yang bekerja di rumah jauh lebih capek ketimbang menjadi ibu yang bekerja di kantor. Itulah yang disampaikan beberapa ibu kepada saya yang kini bekerja di rumah. Ibu yang bekerja di rumah maupun di kantor saat ini harus memiliki keterampilan multitasking. Sebuah keterampilan dimana para ibu harus mampu melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Sebagai seorang ayah, saya juga harus demikian. mampu menguasai keterampilan multitasking untuk melindungi dan membesarkan anak-anaknya. Ibu dan ayah harus saling melengkapi dan tidak saling memikirkan dirinya sendiri.
Itulah yang dilakukan kartini. Dia tak mementingkan dirinya sendiri. Dia berusaha keras memikirkan kaumnya agar hidup merdeka dan sejajar dengan kaum laki-laki. Tidak terjajah oleh kaum pria, dan menjadi budak kaum laki-laki yang hanya mementingkan dirinya sendiri.
“Salah satu penghambat terbesar seseorang untuk meraih kesuksesan yang diimpikannya adalah dirnya sendiri. Mampu mengalahkan diri kita adalah kunci pertama untuk mencapai puncak” (Be a champion with a Tiger’s Heart.”.
Akhirnya, saya ucapkan selamat hari Kartini. Jadilah wanita yang multitasking. Wanita yang mampu bekerja dengan berbagai macam kegiatan dalam satu waktu seperti computer pc atau laptop yang mampu membuka beberapa program  dalam waktu bersamaan. Wanita sekarang tidak hanya seputar sumur, dapur, dan kasur. Tetapi lebih dari three in one itu. Wanita sekarang harus mampu menang melawan diri sendiri  yang menguasai diri secara powerful dan meraih kemulian hidup.
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/04/21/selamat-hari-kartini-jadilah-wanita-yang-multitasking/